PLN WORLD CLASS COMPANY

Posted On 17 Oktober 2010

Filed under All About PLN
Tag:

Comments Dropped one response

MY PASSION by AGOENK ANGKATAN 2002

Weekend ini aq melewatkan some great time of our greatest time dengan istriku tersayang. Makan malam yang enak, waktu tidur yang indah dan kemudian menonton film Hollywood yang baru-baru ini membuat heboh semua media massa karena adanya Julia Robert yang shooting di Bali.
Film ini menceritakan tentang seorang psikolog wanita (sebut saja Liz) yang berusaha menemukan jatidirinya kembali, karena goncangan hidup yang begitu berat, yang berakibat dirinya merasa hampa, seperti mati rasa padahal sebenarnya masih hidup dan sehat wal afiat.
Langkah pertama yang dilakukan Liz adalah menemukan kembali suatu hal yang menjadi hobbynya di masa lalu, yaitu makan. Liz memutuskan pergi ke Italia, mengagumi dan menikmati “Wisata Kuliner” tanpa memikirkan berat badannya yang naik.
Langkah keduanya adalah pergi ke India, untuk menemui sang “Guru Ashram” yang diharapkan menuntunnya untuk memahami jiwanya, memaafkan segala kesalahan yang telah diperbuatnya di masa lalu sekaligus juga memaafkan cintanya. Dengan serangkaian terapi yang dijalaninya, membuatnya mampu memaafkan dirinya sendiri atas kesalahannya.
Langkah ketiganya adalah pergi ke Bali, menemui seorang “dukun” yang pernah meramalnya beberapa tahun lalu, untuk menagih janji sang “dukun” tersebut. Sang “dukun” menjawab bahwa semua ramalannya hampir terpenuhi, dan kemudian menyarankan Liz untuk tinggal di Bali menjalankan semua ritual yang pernah dipelajarinya dan memantapkan kesembuhan jiwanya. Entah kebetulan atau tidak, Liz akhirnya menemukan cintanya di Bali setelah diserempet sebuah mobil yang dikendarai oleh Felipe, pria Brazil yang berbisnis di Bali.

So apa hubungannya dengan World Class Company-nya PLN ?
Jawabanku tidak sepenuhnya berhubungan. Namun dengan ilmu gathuk ala orang Jawa, dapat dikatakan PLN saat ini seperti orang yang “mati” padahal sebenarnya hidup dan punya segala kapabilitas untuk bekerja. PLN ditekan sedemikian rupa oleh keadaan, disisi hulu harus menghadapi pasar bebas sumber energy yang begitu gila, sementara disisi hilir dikebiri oleh aturan TDL yang seolah menjadi komoditas politik di panggung democrazy.
What Happen Aya Naon euy? PLN haruskah dibeginikan? Padahal semua orang dinegeri ini setuju bahwa PLN adalah asset Negara yang harus dikembangkan. Bagaimana ini ?
Menuju WCC, PLN harus berbenah dimulai dari potensi insane SDM-nya, tolong agar kebutuhan “EAT” SDM dipenuhi dengan seadil-adilnya. Caranya dengan menerapkan manajemen SDM yang konsisten dengan aturan, penerapan, reward dan punishment serta continous improvement yang berkelanjutan. Tidak perlu bertindak muluk-muluk, namun jika setiap SDM PLN diberi kesempatan untuk mengaktualisasi dirinya melalui perbaikan pada proses bisnis yang menjadi tugasnya maka dalam beberapa tahun mendatang PLN akan lebih sempurna.
Dengan jajaran SDM PLN yang sadar bahwa dirinya adalah bagian penting bisnis PLN, atau dikatakan engagement pegawai dengan perusahaan begitu kuat, maka berilah kesempatan SDM tersebut meningkatkan kualitas jiwa dan kepemimpinannya agar di masa depan selalu tersedia stok kader pemimpin yang mumpuni dan dewasa kejiwaannya serta jujur dalam bekerja. Pelaksanaan dilapangan slogan “ANTI PUNGLI”, “ANTI SUAP” dan “ANTI KKN” tidak akan berjalan jika kondisi kejiwaan mayoritas SDM PLN sakit. Bidang SDMO harus memiliki program track recording kader-kader PLN ini untuk memastikan bahwa mereka tidak terlibat perbuatan terlarang, agar dapat diharapkan saat menjadi pemimpin, kepemimpinannya bersih dari perbuatan terlarang. Proses ini dapat dikatakan “PRAY” … forgive your self then you will forgive others.
Dalam teori MASLOW, terpenuhinya kebutuhan dasar, akan berkembang menuju kebutuhan aktualisasi diri manusia itu sendiri. Dapat dibayangkan jika manusia PLN beraktualisasi kemampuannya di PLN, dengan melayani pelanggan lebih baik, memperbaiki proses bisnis, mencegah pemadaman (daripada melakukan perbaikan setelah listrik padam) dan seterusnya, maka akan “mengangkat” PLN untuk semua stakeholder-nya. Penilaian “WORLD CLASS” tidak patut dinilai oleh orang dalam, tapi justru masyarakat pelanggan, pemerintah dan termasuk dari luar negeri ini yang akan menilainya. Jika masyarakat merasa bahwa PLN sudah baik, ditandai dengan jarangnya pemadaman, tagihan listrik yang fair, proses yang transparan kemudian ditambah hasil keuntungan yang significant bagi pemerintah maka sudah selayaknya PLN menjadi WORLD CLASS, perusahaan listrik negeri lain pun tidak akan segan menyewa tenaga dan pikiran pegawai PLN untuk memperbaiki kondisi listrik di negaranya. Disinilah PLN akan menemukan “LOVE” … dicintai oleh masyarakat, pemerintah dan warga dunia karena sumbangsihnya.

Demikianlah impian saya tentang WCC PLN, inspired by EAT PRAY and LOVE.

SALAM

One Response to “PLN WORLD CLASS COMPANY”

  1. retty

    wew.. baru tau kalo ada hubungannya antara eat, pray, love sama PLN… hahaha.. good analysis.

    tapi y memang BUMN itu dr dulu jd bonekanya pemerintah dan politik praktisnya yang (seringkali) g sehat. jadi klo jadi pegawainya ya terpaksa “nriman” sama some kind of injustice kayak begini.

    kadang2 bingung jg gtw mw ngapain. bnyk pegawai yg merasa dg dtg pg-plg malem, dpt duit aja dah cukup, jrg mikirin PLNnya.
    padahal, ad jg yg mikirin PLNnya dan ingin melakukan breaktrough, tp tahta jabatannya blm mampu membuat suaranya didengar para “dewa”.

    what to do now?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s